Thursday, 15 August 2019

Novel Islami Romantis itu Seperti Ini (bag 2)

Ini bagian yang kedua tentang kisah romantis yang melebihi novel islami romantis. Kamu pasti suka. Untuk itu, kamu bisa simak baik-baik hingga habis. Sebab, ini adalah bagian kedua sekaligus terakhirnya.
@@
Pemuda tampan itu pun mengambil kertas dan menuliskan surat untuk perempuan itu. Setelahnya, ia segera keluar dan memberikan kertas itu pada perempuan yang masih berdiri di tempatnya semula. Begitu menyerahkan kertas itu, ia segera pulang ke rumahnya kembali.
Dalam surat itu ia menulis,
Bismillahirrohmanirrohim. Ketahuilah, Gadis, sesungguhnya jika seorang hamba bermaksiat kepada Allah, maka Dia masih bermurah hati. Jikapun hamba itu mengulangi maksiat itu kembali, Allah masih berkenan menyembunyikannya. Namun jika maksiat itu terulang kembali, maka murka Allah akan datang, dengan kemurkaan yang membuat langit, bumi, gunung, tumbuhan, dan seluruh makhluk menciut karena takut. Maka siapakah yang mampu menahan murka Allah itu?
Jika yang kukatakan ini keliru, maka sesungguhnya aku sedang mengingatkanmu pada hari di mana langit akan runtuh dan gunung-gunung beterbangan seperti kapas, serta seluruh manusia ketakutan menantikan pertemuannya dengan Dzat Yang Maha Perkasa nan Agung. Dan sesungguhnya, demi Allah, aku tak mampu menolong diriku sendiri. Maka bagaimanakah aku bisa menolong orang lain?
Jika yang aku katakan ini adalah hak, maka kutunjukkan padamu siapa yang bisa mengobati setiap luka, dan menyembuhkan penyakit yang tak pernah dapat diobati sekalipun. Dialah Allah robbul alamin.
Maka pergilah ke sana mengadukan masalahmu dengan kesungguhan hati. Sesungguhnya, aku  tak mampu berbuat sesuatupun untuk kebaikanmu. Allah berfirman:
Wa andzirhum yaumal aazifati idzil quluubu ladal hanaajiri kadhimin ma lidh-dholimiina min hamiimin wa la syafi`i yutho’
Berilah mereka peringatan akan hari yang dekat (hari kiamat, yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan.  Orang-orang yang lalim tidak mempunyai teman setia seorang pun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafaat yang diterima syafaatnya.
Ya’lamu khoinatal a’yuni wa ma tukhfish shudur
Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.
(QS Al Mukmin 18-19)
Maka kita ke manakan ayat ini?
Keromantisan kisah romantis yang menyamai novel islami romantis ini pun berlanjut.
Usai menerima surat dari Pemuda Kuffah itu, esoknya, sang perempuan kembali datang. Ia menunggu Pemuda Kuffah di tepi jalan seperti saat pertama kali ia menunggu Pemuda Kuffah itu. Ada sesuatu yang ingin ia katakan. Ia berharap, ia bisa menemuinya saat Pemuda Kuffah itu berangkat ke masjid.
Dan benar, tak lama kemudian, Pemuda Kuffah itu muncul. Dari kejauhan, ia melihat Pemuda Kuffah itu berjalan pelan menuju ke arahnya. Hatinya berbahagia. Tapi tidak demikian dengan Pemuda Kuffah. Ia tergeragap begitu tahu dirinya sedang ditunggu oleh perempuan bukan muhrimnya itu. Seketika ia berbalik arah dan kembali ke rumahnya.
Sang perempuan terhenyak. Spontan ia berseru mencegah pemuda itu.
“Tunggu sebentar! Tunggu sebentar! Jangan pergi dulu! Kumohon! Jangan pergi! Sebab setelah ini aku tidak akan menemuimu lagi selamanya, kecuali esok saat berada di hadapan Allah!”
Perempuan itu tersedu. Tetes-tetes bening terburai dari kedua matanya yang indah. Ia menangis pilu, mengharapkan pemuda itu berhenti untuk mendengarkan perkataannya.
“Kumohon jangan pergi!” serunya tetap menangis. “Kudoakan semoga Allah membukakan pintu hatimu dan memudahkan urusanmu.”
Pemuda Kuffah tetap melaju. Sama sekali ia tak menghiraukan seruan perempuan itu.
“Tunggu dulu! Jangan pergi!” teriak perempuan itu lagi.
Terhuyung-huyung, perempuan itu berlari mengejar Pemuda Kuffah yang tak juga memenuhi permintaannya.
“Berbaiklah padaku! Berikan aku tutur yang akan kupegang selamanya! Berikan aku nasihat yang akan kulakukan seumur hidupku!” sedu perempuan itu pilu.
Iba juga pemuda Kuffah itu melihat perempuan yang mengejarnya. Ia berhenti. Katanya, “Jaga dirimu dari nafsumu. Kuingatkan padamu firman Allah, wahuwal ladzi yatawaffakum billaili, wa ya’lamu ma jarohtum bin nahar[1]. Dan Dia yang menidurkanmu di malam hari dan mengetahui apa yang kau kerjakan di siang hari.”
Perempuan itu tertunduk sedih. Tangisnya pecah. Pilu yang ia rasakan sejak tadi semakin menjadi-jadi.
Setelah hari itu, kehidupannya berubah drastis. Pilunya tak pernah usai. Sedunya berlanjut. Dan duka terus menemani kehidupannya. Ia tak lagi ke luar rumah menikmati wangi kehidupan seperti perempuan-perempuan lain. Hari-harinya ia lewatkan untuk menyendiri, beribadah kepada Allah, mengadukan duka, rindu, dan gelisah yang membuat raganya terlena.
Kehidupannya tak pernah berubah lagi. Ia tetap harus membawa duka dan rindunya selama-lamanya. Tak usai ia terus beribadah mengadukan semuanya kepada Allah hingga semuanya benar-benar telah berakhir. Ajal menjemput perempuan itu dari kedalaman duka dan rindunya yang menjurang dalam.
Kuhirup udara dalam. Romo Yai sampun rawuh. Beliau masuk ke dalam masjid, sholat dua rokaat, lalu mulai membacakan Kitab Ihyak untuk kami. Cerita cinta itu akan sulit ada dalam kehidupanku. Aku hanya bisa menggaris bawahi, bahwa sudah selayaknya cinta dikembalikan pada yang memberinya. Bukan diumbar dan dinodai dengan maksiat-maksiat yang mengundang kemurkaan Allah. Termasuk apa yang aku lakukan. Cinta sesama muslim.
Sesungguhnya, jika dulu aku bisa menjaga cinta itu, tentu telah lama cinta itu akan semakin mendekatkanku kepada Allah. Bukan membuatku terpuruk dan berduka, tersiksa mengingat kemurkaan Allah atasku.
Di akhir cerita itu, sang pemuda menangis mendengar kabar meninggalnya perempuan itu. Ia tidak menyangka, lara, rindu, dan cinta perempuan itu demikian mendalam. Hingga harus selesai dijemput ajal.
“Untuk apa engkau menangis? Engkau yang telah membuat perempuan itu berputus asa,” rutuk teman pemuda itu, melihatnya menangisi kepergian perempuan cantik yang mencintainya.
“Aku sudah menghancurkan harapan perempuan itu saat pertama kali ia mengungkapkannya padaku. Kujadikan ini sebagai rahasia yang kutitipkan kepada Allah. Aku khawatir, Allah akan marah dan menghinakanku karena aku telah menghancurkan harapan perempuan itu,” ujar pemuda itu sedih.
@@
Membaca cerita di atas, apa yang kini ada di benakmu? Jangan bayangkan yang macam-macam. Apalagi berharap memiliki hidup seperti kisah romantis yang melebihi romantisnya novel islami romantis. Salam.


[1] QS 6:60

No comments:

Post a Comment