Ini
bagian yang kedua tentang kisah romantis yang melebihi novel islami romantis.
Kamu pasti suka. Untuk itu, kamu bisa simak baik-baik hingga habis. Sebab, ini
adalah bagian kedua sekaligus terakhirnya.
@@
Pemuda tampan itu pun mengambil kertas dan
menuliskan surat untuk perempuan itu. Setelahnya, ia segera keluar dan
memberikan kertas itu pada perempuan yang masih berdiri di tempatnya semula.
Begitu menyerahkan kertas itu, ia segera pulang ke rumahnya kembali.
Dalam surat itu ia menulis,
Bismillahirrohmanirrohim.
Ketahuilah, Gadis, sesungguhnya jika seorang hamba bermaksiat kepada Allah,
maka Dia masih bermurah hati. Jikapun hamba itu mengulangi maksiat itu kembali,
Allah masih berkenan menyembunyikannya. Namun jika maksiat itu terulang
kembali, maka murka Allah akan datang, dengan kemurkaan yang membuat langit,
bumi, gunung, tumbuhan, dan seluruh makhluk menciut karena takut. Maka siapakah
yang mampu menahan murka Allah itu?
Jika yang kukatakan ini keliru, maka
sesungguhnya aku sedang mengingatkanmu pada hari di mana langit akan runtuh dan
gunung-gunung beterbangan seperti kapas, serta seluruh manusia ketakutan
menantikan pertemuannya dengan Dzat Yang Maha Perkasa nan Agung. Dan
sesungguhnya, demi Allah, aku tak mampu menolong diriku sendiri. Maka bagaimanakah
aku bisa menolong orang lain?
Jika yang aku katakan ini adalah hak, maka
kutunjukkan padamu siapa yang bisa mengobati setiap luka, dan menyembuhkan
penyakit yang tak pernah dapat diobati sekalipun. Dialah Allah robbul
alamin.
Maka pergilah ke sana mengadukan masalahmu
dengan kesungguhan hati. Sesungguhnya, aku tak mampu berbuat sesuatupun
untuk kebaikanmu. Allah berfirman:
Wa andzirhum yaumal aazifati idzil quluubu
ladal hanaajiri kadhimin ma lidh-dholimiina min hamiimin wa la syafi`i yutho’
Berilah mereka peringatan akan hari yang
dekat (hari kiamat, yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan
menahan kesedihan. Orang-orang yang lalim tidak mempunyai teman
setia seorang pun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafaat yang
diterima syafaatnya.
Ya’lamu khoinatal a’yuni wa ma tukhfish
shudur
Dia mengetahui (pandangan) mata yang
khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.
(QS Al Mukmin 18-19)
Maka kita ke manakan ayat ini?
Keromantisan kisah romantis yang menyamai
novel islami romantis ini pun berlanjut.
Usai menerima surat dari Pemuda Kuffah
itu, esoknya, sang perempuan kembali datang. Ia menunggu Pemuda Kuffah di tepi
jalan seperti saat pertama kali ia menunggu Pemuda Kuffah itu. Ada sesuatu yang
ingin ia katakan. Ia berharap, ia bisa menemuinya saat Pemuda Kuffah itu
berangkat ke masjid.
Dan benar, tak lama kemudian, Pemuda
Kuffah itu muncul. Dari kejauhan, ia melihat Pemuda Kuffah itu berjalan pelan
menuju ke arahnya. Hatinya berbahagia. Tapi tidak demikian dengan Pemuda
Kuffah. Ia tergeragap begitu tahu dirinya sedang ditunggu oleh perempuan bukan
muhrimnya itu. Seketika ia berbalik arah dan kembali ke rumahnya.
Sang perempuan terhenyak. Spontan ia
berseru mencegah pemuda itu.
“Tunggu sebentar! Tunggu sebentar! Jangan
pergi dulu! Kumohon! Jangan pergi! Sebab setelah ini aku tidak akan menemuimu
lagi selamanya, kecuali esok saat berada di hadapan Allah!”
Perempuan itu tersedu. Tetes-tetes bening
terburai dari kedua matanya yang indah. Ia menangis pilu, mengharapkan pemuda
itu berhenti untuk mendengarkan perkataannya.
“Kumohon jangan pergi!” serunya tetap
menangis. “Kudoakan semoga Allah membukakan pintu hatimu dan memudahkan
urusanmu.”
Pemuda Kuffah tetap melaju. Sama sekali ia
tak menghiraukan seruan perempuan itu.
“Tunggu dulu! Jangan pergi!” teriak
perempuan itu lagi.
Terhuyung-huyung, perempuan itu berlari
mengejar Pemuda Kuffah yang tak juga memenuhi permintaannya.
“Berbaiklah padaku! Berikan aku tutur yang
akan kupegang selamanya! Berikan aku nasihat yang akan kulakukan seumur
hidupku!” sedu perempuan itu pilu.
Iba juga pemuda Kuffah itu melihat
perempuan yang mengejarnya. Ia berhenti. Katanya, “Jaga dirimu dari nafsumu.
Kuingatkan padamu firman Allah, wahuwal ladzi yatawaffakum billaili, wa
ya’lamu ma jarohtum bin nahar[1].
Dan Dia yang menidurkanmu di malam hari dan mengetahui apa yang kau kerjakan di
siang hari.”
Perempuan itu tertunduk sedih. Tangisnya
pecah. Pilu yang ia rasakan sejak tadi semakin menjadi-jadi.
Setelah hari itu, kehidupannya berubah
drastis. Pilunya tak pernah usai. Sedunya berlanjut. Dan duka terus menemani kehidupannya.
Ia tak lagi ke luar rumah menikmati wangi kehidupan seperti perempuan-perempuan
lain. Hari-harinya ia lewatkan untuk menyendiri, beribadah kepada Allah,
mengadukan duka, rindu, dan gelisah yang membuat raganya terlena.
Kehidupannya tak pernah berubah lagi. Ia
tetap harus membawa duka dan rindunya selama-lamanya. Tak usai ia terus
beribadah mengadukan semuanya kepada Allah hingga semuanya benar-benar telah
berakhir. Ajal menjemput perempuan itu dari kedalaman duka dan rindunya yang
menjurang dalam.
Kuhirup udara dalam. Romo Yai sampun
rawuh. Beliau masuk ke dalam masjid, sholat dua rokaat, lalu mulai
membacakan Kitab Ihyak untuk kami. Cerita cinta itu akan sulit ada dalam
kehidupanku. Aku hanya bisa menggaris bawahi, bahwa sudah selayaknya cinta
dikembalikan pada yang memberinya. Bukan diumbar dan dinodai dengan
maksiat-maksiat yang mengundang kemurkaan Allah. Termasuk apa yang aku lakukan.
Cinta sesama muslim.
Sesungguhnya, jika dulu aku bisa menjaga
cinta itu, tentu telah lama cinta itu akan semakin mendekatkanku kepada Allah.
Bukan membuatku terpuruk dan berduka, tersiksa mengingat kemurkaan Allah
atasku.
Di akhir cerita itu, sang pemuda menangis
mendengar kabar meninggalnya perempuan itu. Ia tidak menyangka, lara, rindu,
dan cinta perempuan itu demikian mendalam. Hingga harus selesai dijemput ajal.
“Untuk apa engkau menangis? Engkau yang
telah membuat perempuan itu berputus asa,” rutuk teman pemuda itu, melihatnya
menangisi kepergian perempuan cantik yang mencintainya.
“Aku sudah menghancurkan harapan perempuan
itu saat pertama kali ia mengungkapkannya padaku. Kujadikan ini sebagai rahasia
yang kutitipkan kepada Allah. Aku khawatir, Allah akan marah dan menghinakanku
karena aku telah menghancurkan harapan perempuan itu,” ujar pemuda itu sedih.
@@
Membaca cerita di atas, apa yang kini ada
di benakmu? Jangan bayangkan yang macam-macam. Apalagi berharap memiliki hidup
seperti kisah romantis yang melebihi romantisnya novel islami romantis. Salam.

